Wawancara dengan Bapak Angga Suanggana (Disnakertrans DIY) - Yayasan Annisa Swasti (YASANTI)

Secara umum suatu kemajuan menunjukkan kepedulian dari desa kepada warga desanya dalam hal ini yang bekerja sebagai Perempuan Pekerja Rumahan (PPR). SK dasar kepala desa memasukkan dalam program desa. Suatu terobosan, patut diapresiasi. SK jadi dasar, landasan bagi kepala desa dan aparat desa untuk menggunakan anggaran desa untuk kemajuan warganya dalam hal ini PPR di desanya. Juga merupakan pengakuan bahwa PPR ada dan nyata, hidup dan melakukan aktivitas ekonomi di desa. Kalau dikaitkan pembangunan ekonomi desa cukup berpengaruh terkait perekonomian pembangunan desa. Bisa dicontoh kepala-kepala desa yang lain. Pekerja Rumahan satu isu mendasar adalah soal isu ketersembunyian atau ketertutupan sebagaimana hasil penelitian International Labour Organization (ILO/Organisasi Buruh Internasional), dll, karena tersebar di desa-desa atau wilayah yang tidak terjangkau publik. Tentang pendataan, pemerintah desa adalah pemerintahan yang paling dekat dengan warga, mestinya paling efisien dan efektif dalam melakukan pendataan. SK Pengakuan PPR dari Desa/Kelurahan merupakan kebijakan yang bersifat konkrit dan individual, bunyi nama dan alamatnya, sudah bisa dipakai sebagai dasar pengambilan kebijakan. Peran saya selama ini dalam dorongan pengakuan dan perlindungan PPR setidaknya ada 2 (dua) peran yang bisa saya sampaikan. Pertama, sebagai individu manusia biasa. Saya mendapat amanah dari Pemda DIY untuk sekolah pasca sarjana (S2). Beberapa saat sebelum S2, saya mulai akrab dengan isu Pekerja Rumahan. Tepatnya akhir tahun 2014 dan mulai intensif awal tahun 2015. Muncul ketertarikan. PekerjaRumahan isu yang jarang bahkan jarang sekali saya dengar, suatu hal yang sangat menarik. Selama saya sekolah S2 (2,5 tahun) saya terus intensif ikuti perkembangan pekerja rumahan. Saya renungkan dalam bentuk formula rumusan perlindungan hukum bagi pekerja rumahan. Sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai ilmuwan/intelektual yang punya tanggung jawab sosial. Saya tuangkan dalam tesis S2 saya, harapan saya, saya tuangkan berbagai pemikiran dan ide terkait perlindungan hukum pekerja rumahan secara komprehensif tidak hanya bagi pekerja rumahan saja. Saya cenderung berikan perhatian lebih pada pekerja rumahan agar tercipta keseimbangan. Dengan ada perlindungan hukum, kedudukan bisa lebih setara. Ide-ide dalam tesis harapan pribadi saya agar tercipta keadilan dalam tataran kehidupan masyarakat. Tesis ini mendapat tanggapan positif dari tim penguji. Dipandangs ebagai ide bagus, kalau bisa diwujudkan akan menjadi suatu hal yang luar biasa. Berbagi ide tesis sudah saya lakukan baik di internal pemda rekan kerja maupun kepada YASANTI, kawan-kawan pekerja rumahan, bahkan sampai ke Tim MAMPU, ILO juga ke Kemenaker. Harapannya ide-ide saya dalam tesis bisa menjadi pertimbangan. Dengan adanya partisipasi atau keterlibatan dari organisasi di luar pemerintah yang seringkali mengajak kami di pemerintahan, itu sangat efektif untuk terus “mencuri perhatian” pemerintah. Sekali lagi ini proses dan kami berkomitmen untuk melakukan hal tersebut sebagai bentuk empati dan kepedulian terhadap pekerja rumahan.

No comments yet.

Leave a Reply

Name (required)

Email (will not be published) (required)

Website