Artikel - Yayasan Annisa Swasti (YASANTI)

Pemberdayaan Buruh Gendong di Pasar Beringharjo

            Kaum Perempuan Indonesia adalah mereka yang memiliki keragaman dan kekhas-annya masing masing dalam menyikapi berbagai persoalan yang ada di masyarakat, tetapi tak jarang pula kaum perempuan mendapatkan perlakuan diskriminasi terhadap pekerjaan yang ia jalani. Buruh gendong menjadi salah satu pekerjaan yang rawan terhadap perlakuan diskriminasi oleh masyarakat, para buruh gendong yang sudah memasuki usia lanjut harus membantu sang kepala keluarga yaitu suami untuk mencari nafkah tambahan. Jika hanya mengandalkan pendapatan yang dihasilkan oleh suami maka keluarga kecil mereka sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari- harinya. Diskriminasi yang diterima oleh kaum buruh gendong dalam hal diskriminasi upah. Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan beberapa waktu yang lalu di Pasar Beringharjo, penulis mendapatkan beberapa keterangan dari buruh gendong terkait kondisi pekerjaannya saat ini. Beliau mengatakan bahwa dalam sekali mengangkut buah salak ia hanya diberi upah sebesar Rp.3000,- padahal beban buah salak yang ia angkut berjumlah sekitar 30kg. Tentunya besaran upah yang diberikan pembeli tidak sebanding dengan beban yang harus dipikulnya, belum lagi resiko yang dihadapi buruh gendong jika terjadi kecelakaan kerja seperti keseleo atau patah tulang.

            Untuk dapat terbebas dari perlakuan diskriminasi yang diberikan oleh sebagian masyarakat terhadap buruh gendong maka organisasi dapat  menjadi  wadah bagi kaum perempuan untuk bisa berkreasi, menyalurkan kemampuan yang dimiliknya. Dalam organisasi ini perempuan bisa menunjukan eksistensinya ditengah masyarakat dan dapat membuktikan bahwa mereka bisa keluar dari stigma yang diberikan. Partisipasi perempuan dalam sebuah organisasi bisa memiliki peran yang berbeda beda misalnya saja sebagai pengambil keputusan ataupun berperan sebagai pelaksana . Maka dari itu pengorganisasian yang melibatkan perempuan menjadi salah satu cara yang dilakukan beberapa pihak untuk dapat membantu perempuan keluar dari persoalan kemiskinan dan pemberdayaan. Adapun manfaat yang didapatkan melalui pengorganisasian selain meningkatkan pendapatan, tetapi pendidikan yang dimiliki kaum perempuan itu sendiri menjadi bertambah seperti dapat mengubah pola pikir mereka untuk dapat bangkit dan mandiri dalam hal ekonomi. Selain itu organisasi yang diikuti perempuan dapat menjadi wadah ataupun ruang untuk bertukar pendapat dengan perempuan lainnya, dan dapat dengan terbuka menyalurkan ekspresinya melalui kegiatan kegiatan yang tentunya dapat meningkatkan kapasitas mereka dalam organisasi tersebut. Jadi dengan adanya keterampilan dalam hal berorganisasi diharapkan buruh gendong menjadi berdaya, dalam hal menciptakan lapangan pekerjaan sendiri ataupun meningkatkan kreatifitas lainnya. Nantinya upah yang diterima bisa digunakan sebagai tambahan pendapatan, kemudian selain mendapatkan keterampilan dalam beroganisasi mereka juga diharapkan paham mengenai kesetaraan gender, agar mereka bisa keluar dari stigma dan diskriminasi yang diberikan kepada mereka.

Selain keterampilan berorganisasi diberikan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Yayasan Annisa Swasti , kaum buruh gendong diberdayakan melalui beberapa program yang dimiliki YASANTI antaralain koperasi simpan pinjam, kegiatan pelatihan softskill ataupun kredit barang ( berupa sembako). Buruh gendong dipilih Yayasan Annisa Swasti sebagai salah satu kelompok dampingan karena realita saat ini menunjukkan bahwa buruh gendong sering mendapatkan subordinasi dalam pekerjaannya sehari hari. Yayasan Annisa Swasti memulai dampingannya sejak tahun 1987 hingga sekarang, dimana kelompok dampingannya tersebar di beberapa Pasar Tradisonal diantaranya Pasar Beringharjo, Pasar Gamping, Pasar Giwangan dan Pasar Kranggan